perlakuan terhadap pekerja…(maaf kalau ga begitu nyambung sama isi)
Posted by dillah2008 on June 24, 2008
Terinspirasi dari email seorang teman di milis yang saya ikuti kemudian saya jadi sempet melamun memikirkan masalah ini, saya ga tau apakah email itu berdasarkan kisah asli atau hanya rekayasa tapi menurut saya kejadian itu cukup menggambarkan keadaan saat ini…
Alkisah ada seorang engineer kenthir bernama prayitno,ST yg bekerja di pabrik manufaktur elektronik Jepang, ni orang baru aja lolos tes perusahaan BUMN yg mengelola gas alam (jelas gede duitnya) dan mau resign, berikut ini perdebatannya dengan manajernya
kita singkat aja ya, manajer = M, dan prayitno = P
M = edan kowe yo prayitno, lagi ES-2 dah mau resign, dimana morality kmu?
P = morality saya ikut berlari bersama morality perusahaan, yg nyuruh karyawannya lembur2 melebihi aturan pemerintah ampe sakit tapi tunjangan kesehatan gak full
M = sebenernya mau kmu apa? dimana2 kerja itu sama. Saya udah menjalani 2 company sebelum ini
P = karena kerja dimana2 itu sama, makanya saya gak ragu resign pak, wong sama aja kok, cuma rewardnya yg beda tho…. ya saya pilih yg rewardnya lebih
M = kenapa kmu gak mencoba profesional disini aja, klo alasannya reward, kan nanti karir serta salary kmu juga bakal naik klo kmu bertahan
P = kenapa saya harus nunggu, klo ada company yg nawarin itu skarang?
M = tapi sayang sekali, saya pandang kmu yg paling berpotensi diantara yg lain
P = bapak udah ngomong gitu ke semua engineer yg resign sebelum saya
M = tidak, ini serius, kmu memiliki potensi besar, disini kmu bisa sukses! daripada kmu memulai lagi dari bawah di company lain yg blum ketauan ntar disana kmu bakal sukses ato gak
P = disini juga sama aja saya blum tau bakal sukses apa gak, wong namanya masa depan kok. Sama2 gak ketauan, tapi yg satu awalannya lebih baik, ya pilih yg lebih baik dunk……
M = maksud kmu lebih baik itu apa? money? uang itu bukan segala2nya
P = klo emang begitu ngapain company costdown gaji saya, apa artinya uang segitu untuk mempertahankan eksistensi engineer
M = Kta kan tidak hanya mengejar uang. Klo orientasi kmu hanya uang, kmu hanya mengejar “live”. No difference with kambing, Bekerja hanya untuk bertahan hidup, Kmu itu engineer!!!! harus berorientasi pada yg lebih mulia, bekerja untuk berkarya, untuk mengembangkan diri
P = saya pengennya seperti itu, makanya saya resign. Gimana saya mau lepas dari orientasi “live” klo tiap bulan saya harus pusing mikir bayaran kos, pulsa, makan, ngirim ortu, nabung buat merit. Naaaa skarang ada company yg nawarin itu, salary yg membuat saya tenang, tak berpikir lagi tentang “live exixtency”. So, boleh dunk saya ambil untuk menaikkan derajat pekerjaan saya
M = prayitno…. klo kmu ngejar yg lebih baik, gak akan abis2…. selalu ada yg lebih baik. saya sudah mengalaminya di 2 company terdahulu
P = emang gak bakal abis pak…. karena itu, ngapain saya abisin disini? mending saya terus2an dapet yg lebih baik ampe brenti karena cape. lagian Bapak juga nyatanya bisa brenti kan?
M = Nyatanya itu si pak Bambang bisa sukses disini sampe level Director, itu karena dia sabar disini
P = pantesan pak Bambang tampangnya kaya gitu. Dah nyingkirin brapa orang dia pak buat ke posisi itu? Iya jabatan si Director, tapi mobilnya sama ma manajer di company baru saya. mendingan saya jadi GM disana dunk daripada jadi director disini
M = inilah yg membuat bangsa kta gak maju2. Oportunis. Orang jepang maju karena loyal
P = loyalitas tu kata2 pembenaran buat ngegaji orang dibawah level pendidikannya pak. Betul jepang itu maju. Tapi lihatlah, terjadi ketimpangan karir antara lelaki dan wanita. karena lelakinya gila kerja semua, mereka jarang menemui anaknya, akibatnya istri2 mereka harus mengimbanginya, ngalah keluar dari kerja buat nambal waktu bapak yg hilang untuk anak2nya karena bokapnya lebih cinta kerja daripada mereka. Tanya deh cewek jepang, lelaki jepang tu paling gak romantis. Ce bawa tas berat aja dicuekin
M = tapi dimana responsibility kmu?
P = responsibility tu apa pak? perasaan dulu saya pernah punya, pas awal2 masuk disini, tapi kata2 itulah yg dijadikan pembenaran untuk menindas saya. Atas nama responsibility, saya mengorbankan kesehatan untuk ketepatan schedule launching produk yg jelas2 merupakan percepatan uang masuk ke kantong pemilik saham.
Betul, manusia harus punya responsibility. Apa responsibility paling utama? keluarga. Anak dan istri adalah amanah dari Yg Diatas.
M = kmu kurang bersyukur, masih banyak orang yg susah dapet kerjaan
P = saya dah diterima Pak, itu rejeki dari Yg Diatas, Klo gak saya ambil, itu yg namanya gak bersyukur. Yg Diatas itu tau kebutuhan kta. Makanya Dia memberi saya kerjaan baru, mungkin karena kebutuhan saya meningkat. Selain itu, Yg Diatas juga memberi pekerjaan pada satu orang pengangguran yg akan menggantikan posisi saya disini setelah resign
M = EDAN KOWE PRAYITNOOOOO! !!!! nek ngono aku yo melu resign…… ….
P = raiso pak…. kowe wis tuwo. Cuma bisa ngelamar ke yg sesuai background. Cuma terbatas di sesama manufaktur elekronik hehehhee cacingan deh lo…..
Saya melihat sepertinya jarang sekali para motivator, psikolog yang bergerak di bidang karier dan sejenisnya menyoroti pada sisi perusahaan, umumnya mereka selalu memberikan masukan kepada para pekerja untuk loyal dan patuh kepada perusahaan tempat dia bekerja. Saya pernah menonton acara yang menampilkan mario teguh (sang motivator), dalam penjelasannya dia mengatakan bahwa seorang manager yang baik salah satunya adalah mampu menyuruh(mungkin memaksa) anak buahnya untuk bekerja lebih dari jam kerja normal.
Saya membaca kompas beberapa hari yang lalu (atau beberapa minggu mungkin), disana terdapat kisah seorang engineer asal indonesia yang bekerja di jerman. Dia mengatakan kalau di jerman perusahaan sangat takut untuk mempekerjakan pegawainya melebihi 10 jam kerja, dan jikalau terpaksa dilakukan mereka harus meminta izin kepada organisasi serikat pekerja yang notabene sangat ditakuti. Alasan tidak mempekerjakan pegawai melebihi 10 jam kerja adalah karena asuransi tidak akan meng-cover jika ada kecelakaan.
Indonesia saat ini banyak sekali penganggurannya, otomatis suply pekerja melebihi demmand nya sehingga para perusahaan menjadi raja yang bisa seenaknya. Hal ini sah2 saja(berdasarkan hukum ekonomi[sok tahu mode-on] ) tapi kalau dilihat lebih jauh sesungguhnya pegawai adalah aset, nah apa tidak sebaiknya aset itu dijaga dengan diperlakukan dengan baik. Manusia berbeda dengan mesin, makhluk ini memiliki perasaan dan karakteristik yang bermacam-macam. Mungkin para motivator dan psikolog2 itu juga memberikan kuliah kepada manajemen perusahaan bagaimana cara memperlakukan pegawai yang baik sehingga sang pekerja dapat memberikan kontribusi terbaik yang dia miliki kepada perusahaan.
Hehehe…maaf sok tahu :”>
Saya hanya bisa berbicara berdasarkan pengalaman saya sebagai staff(kacung), mungkin kalau di kemudian hari ada jam terbang sebagai pimpinan saya akan mempunyai persepsi yang lain :p